WAKTUNYA PULANG

Posted by predatorbuku Kamis, 04 April 2013 0 komentar


cerpen



“Lalu  selanjutnya bagaimana bapak guru?”, sela seorang murid yang duduk di bangku paling depan.
“Ah kau ini mengganggu saja jang, simaklah saja, jangan kau potong dengan pertanyaanmu itu. Kita harus sabar”, orang di samping siswa yang dipanggil Ujang itu protes dan menjitak kepala plontos murid yang tidak tertib itu.
“Membosankan, bahkan aku sudah hafal setiap kata dan kalimat lanjutannya, tapi masih saja ada yang penasaran, huhh!”, seorang gadis manis berkacamata yang terlihat paling menonjol mendengus sebal.
Sementara itu sang guru hanya tersenyum melihat para siswa yang antusias mendengarkan penjelasannya. Sejenak, diliriknya horloge pemberian sang ayah, satu-satunya peninggalan berharga yang diwariskannya sebelum meninggal dunia. ‘ah masih ada waktu beberapa menit sebelum waktu kembali muda’ pikir sang guru. Baginya, waktu memang penting, sangat penting malah, sehingga penggunaannya harus diperhitungkan dengan matang. Terlintas kembali dalam memorinya akan wejangan-wejangan sang ayah dahulu.
‘Nak, bagi orang barat, waktu itu diibaratkan sebagai uang, dan orang arab melambangkannya sebagai pedang, tapi bagi ayah waktu itu sama halnya dengan makhluk hidup lainnya. Waktu ada dimana-mana, bernapas dan hidup berdampingan dengan kita, manusia. Ironisnya, hanya sedikit saja manusia yang menyadari eksistensinya. Jika kau beruntung nanti kau pun kan menyadari keberadaanya nak, semoga’. Setelahnya, kalimat sang ayah berkelebat cepat, seolah berkejaran dengan waktu yang sedang diceritakannya.
Entah benar atau tidak, sang bapak guru lebih memilih untuk mempercayainya, meyakini kebenaran dibalik kata-kata ayahnya. Toh sebenarnya tidak ada kebenaran yang benar-benar benar selain kebenaran hakiki dari-Nya, selain itu semuanya relatif. Semua itu tercermin dari sikap sang guru yang hidup saling bertoleransi dengan waktu. Ia tak lagi memainkan peran sebagai seorang pemburu, hidup untuk mengejar-ngejar waktu. Ia juga tidak sedang bermain lakon sebagai seorang bisu-buta-tuli, acuh terhadap hidup, waktu dan segala misteri. Ia adalah tipe seorang guru yang memiliki sahabat sebuah waktu.
Dahulu ia pernah (bahkan sering) tidak masuk mengajar berbulan-bulan. Para siswa sangat merindukan kedatangannya disetiap waktu yang meremaja. Bahkan ia mendapat laporan bahwa beberapa siswanya mengeluh dan mengadukan kerinduannya pada bapak kepala sekolah. Namun entah apa kelanjutan yang terjadi dibalik kaca tebal ruangan khusus bapak kepala sekolah itu. Sang guru memang terlihat jarang tidak datang berbulan-bulan, berminggu-minggu, atau berhari-hari lagi. Dan para siswa selalu merindukan gurunya karena berjam-jam, bermenit-menit, atau berdetik-detik lamanya tak berjumpa dengan sang guru.
Namun kini semuanya telah berubah semenjak sang guru bertenggang rasa dan saling menghormati dengan sahabatnya, waktu. Prinsipnya, ‘berlari bukan berarti berburu waktu dan diam tak selalu bermakna acuhkan keadaan’ berhasil mencegah kepunahan waktu karena habis terburu-buru. Ia mulai hidup seperti waktu, tumbuh muda, meremaja dan dewasa dalam dentang jarum penunjuk waktu. Jika ia terbanting pada ujung kematian bersama menuanya waktu, ia kan kembali hidup mengulangi hidup bersama waktu yang memuda di angka satu.
“Lalu selanjutnya bagaimana bapak guru?”, Ujang terlihat makin tak sabar. Ia telah selesai berkemas sejak beberapa menit yang lalu. Di dalam ruang kelas yang pengap dan gerah itu, ujang seperti lakon seorang pemburu, terburu-buru mengejar waktu. AC yang terpajang di dinding kelasnya tak mampu hentikan keringat yang terlihat merembes pada kaosnya, sebenarnya karena AC tersebut hanya digunakan sebagai pajangan semata.
“Iya bapak guru, bagaimana selanjutnya?”, Budi yang sebelumnya kurang sependapat dengan Ujang kini sepertinya sudah tidak sabar juga. Gerak-geriknya terlihat gelisah. Pandangan matanya terfokus pada layar HP dan pintu ruang kelasnya. Sempat pula ia memegangi perut yang memanggilnya mesra.
“Ayolah bapak guru ucapkan kalimat itu, atau biarkan kali ini saya yang mengumandangkannya penuh semangat!”, sang gadis bermata empat mencoba merayu bapak guru untuk mengeluarkan kata-kata pamungkasnya. Gadis ini juga terlihat sudah menutup lembaran buku yang biasanya tak pernah ia biarkan tertutup. Ia sudah siap menerima kalimat bapak gurunya, ah bukan hanya dia saja. Seluruh siswa di kelas sudah bersiaga hendak menerima tugas dari sang bapak guru.
Sang bapak guru pun mulai berkemas. Ia mengeluarkan setumpuk kertas hasil tulisan para siswanya dan membagikannya sama rata. Ia tersenyum penuh wibawa, ditatapnya wajah anak didiknya satu-persatu, kemudian ia sengaja menarik napas agak dalam dan menghembuskannya dengan pelan namun pasti. Dengan begitu ia berhasil membungkam sedikit keriuhan di ruang kelasnya. Dan memang benar, semuanya langsung terdiam. Menunggu kalimat maut sang guru.
“Baiklah, WAKTUNYA PULANG!!”, lantang dan tegas sang guru bersabda, dan keheningan sesaat tadi pun pecah.
“Yess pulaaaang..”.
“Aku mampir ke kosmu dulu ya sayaang..”.
“Hepp singgak tuges tie maeh..”.
“Nanti kita jadi futsal bro..”.
“Bagaimana kabarnya program ngung..  itu bung?”.
“Kemana kita eeng... ah masa sih nggg.... sanggar??...... ngeng nging.... oh.... ngngnung..... ...urusnya......”
Dan akhirnya semua kembali pulang ke diri masing-masing. Dalam keriuhan itu sayup-sayup terdengar pesan sang bapak guru, “jangan lupa luangkan waktu kalian untuk pulang ke ‘rumah”.

48/0/20/21/1/13
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: WAKTUNYA PULANG
Ditulis oleh predatorbuku
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://phoenicca.blogspot.com/2013/04/waktunya-pulang.html . Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar :

Posting Komentar

trikmudahseo.blogspot.com support www.evafashionstore.com - Original design by Bamz | Copyright of ULUMUNA .